Bersikap Overprotektif pada Anak, Apa Efeknya?

Menjadi orangtua di era yang modern saat ini memang lebih sulit. Banyak tantangan yang harus dihadapi orangtua, untuk menciptakan suasana yang ideal bagi tumbuh kembang anak. Apalagi dunia di luar rumah yang semakin “brutal” membuat orangtua sering was-was. Akibatnya, banyak orangtua yang secara tidak sadar bersikap overprotektif pada anak-anak, demi melindungi buah hatinya dari “kejamnya” dunia luar. Padahal, sikap overprotektif juga berefek samping lho Sist, apa saja itu, yuk lanjut baca..

Menurut dokter anak Ramon Resa, seperti yang pernah termuat di The Huffington Post, orangtua yang overprotektif akan menghambat proses pembelajaran pada anak. Anak-anak tidak bisa mengeksplorasi dunianya. Padahal anak harus belajar menangani sendiri berbagai situasi yang dihadapinya. Jika orangtua bersikap “selalu ada untuk anaknya”, anak cenderung selalu bergantung pada orangtua, dan tidak mampu mencari jawaban sendiri atas persoalan yang dihadapi.

Maksud orangtua untuk selalu melindungi anaknya agar mereka bisa hidup nyaman, tanpa tekanan, tentu bagus. Namun dikatakan Dr Resa, yang sering terjadi justru efek kebalikannya. Anak dengan orangtua overprotektif cenderung tertekan dan mudah cemas. Kebahagiaan kurang tercipta dalam rumah dimana orangtua bersikap overprotektif,  karena orangtua selalu membuat segala sesuatunya sempurna untuk anak-anaknya. Alih-alih menciptakan lingkungan yang bebas stres dan membahagiakan, orangtua overprotektif justru menghambat anak-anaknya mendapatkan kehidupan yang bahagia dalam jangka panjang.

Orang dewasa mendapat kepercayaan diri dengan bekerja keras dan menjadi yang terbaik dalam bidang yang digelutinya, anak-anak pun demikian. Namun pada orangtua yang overprotektif, yang tidak ingin melihat anaknya “menderita” karena harus bekerja keras, sama saja dengan menghambat anak-anak mengembangkan kemampuannya sendiri. Hasilnya, anak-anak jadi kurang percaya diri. Orangtua yang overprotektif sama saja menganggap anak-anaknya tidak mampu mengerjakan segala sesuatunya sendiri, atau mereka tidak percaya bahwa anak-anaknya memiliki kemampuan untuk itu.

Anak lambat dewasa, itulah yang terjadi ketika orangtua melakukan semua hal untuk anak-anaknya. Salah satu tugas penting orangtua adalah menyiapkan anaknya agar tumbuh menjadi orang dewasa yang mandiri dan produktif. Namun, orangtua yang overprotektif justru menghambat proses itu. Ambil contoh sederhana, saat anak ikut kemping di sekolah, banyak orangtua yang memilih mengirim makanan siap saji, ketimbang membiarkan anaknya mengasah kemampuannya memasak bersama kawan-kawannya. Kesimpulannya, melindungi anak itu perlu, tapi bersikap overprotektif, agaknya justru akan merugikan si anak sendiri. Bijaksanalah..

Leave a Reply