Kuliner : Kawa Daun, Minuman Tinggi Antioksidan Asli Bukittinggi

Kali ini kita akan membahas mengenai Kuliner : Kawa Daun, Minuman Tinggi Antioksidan Asli Bukittinggi. Sudah tidak heran bahwa Indonesia memiliki kekayaan kuliner yang beranekaragam patut disyukuri. Tak hanya cita rasa yang sedap dan nikmat yang menjadi poin penting pecinta kuliner nusantara, tetapi sejarah indah yang menjadi latar belakang lahirnya sebuah menu khas daerah masing-masing. Begitu pula kawa daun yaitu minuman seperti teh yang dibuat dari daun kopi yang memiliki kandungan antioksidan yang lebih tinggi dari teh hijau dan teh hitam.

Ada kisah menarik di balik pembuatan minuman ini. Saat Belanda menerapkan sistem tanam paksa atau Cultuurstelsel di Sumatera Barat, petani diwajibkan menanam kopi dan menyerahkan semua hasil panennya kepada Belanda. Petani tidak dibolehkan memiliki biji kopi. Harga kopi di Eropa saat itu memang sedang tinggi sehingga pengawasan terhadap komoditas ini sangat ketat. Warga pribumi pun mencari cara lain agar dapat merasakan minuman yang kala itu memiliki prestise tinggi. Akhirnya diperoleh cara pembuatan minuman dari daun kopi yang dikeringkan dan diseduh untuk tetap mendapatkan aroma kopi.

Metode pembuatan kawa daun masih dipertahankan hingga sekarang. Bahan dasar minuman ini diperoleh dari daun kopi yang tidak terlalu tua dan tidak terlalu muda. Daun dipetik lalu dijepit menggunakan bilah bambu. Setelah itu daun digantung di atas perapian selama berhari-hari hingga daun benar-benar kering. Daun yang sudah kering lalu diremas-remas hingga hancur dan menyerupai serbuk daun teh seperti yang kita kenal.

Untuk membuat minuman kawa daun, serbuk dimasukkan ke dalam tabung dari ruas bambu dan ditutup dengan serat ijuk sebagai saringan. Kemudian bambu diisi dengan air panas dan dibiarkan mengendap beberapa saat. Setelah agak pekat, teh daun kopi ini siap disajikan.

Kawa daun tidak disajikan dengan gelas atau cangkir biasa. Minuman ini disajikan dalam wadah khusus yang disebut sayak. Sayak adalah cangkir dari tempurung kelapa yang dibelah di tengah hingga menyerupai mangkok dan di bawahnya dipasangi potongan ruas bambu agar bisa berdiri. Sebagai pelengkap hidangan, tersedia cemilan berupa aneka gorengan. Ada bakwan, pisang goreng, dan bika bakar. Bika adalah semacam kue yang dibuat dari ketan dan parutan kelapa yang dimasak dengan cara dibakar.

Kawa biasanya dicampur dengan bahan lain untuk memberikan variasi rasa. Dangau kawa yang kami singgahi menyediakan tiga varian rasa, yaitu kawa original, kawa telur, dan kawa susu. Bagi yang belum terbiasa meminumnya, kawa daun memang rasanya agak aneh. Namun lama kelamaan mulai timbul juga kenikmatannya. Pahit ala kopi dan harum aroma teh bercampur. Kawa daun menambah khasanah saya akan jenis minuman yang selama ini tak jauh-jauh dari kopi, teh, atau susu.

Kuliner tidak melulu tentang makanan enak dan minuman nikmat saja. Dengan mencari tahu tradisi masyarakat lokal tentang suatu masakan. Dengan mempelajari sejarah dibalik penciptaan suatu minuman. Dari cerita itu kita menjadi lebih bersyukur bahwa kuliner Indonesia adalah sesuatu yang hebat. Tidak kalah hebat dengan western food atau oriental food yang sudah lebih dulu terkenal. Semoga bahasan artikel mengenai kuliner : kawa daun sebagai minuman tinggi antioksidan asli Bukittinggi menambah wawasan kita mengenai kekayaan nusantara Indonesia.

One Comment

Leave a Reply