Sombong? Apalah Gunanya!

Sombong? Apalah Gunanya! Seringkali kita kesal menghadapi orang yang sombong. Memamerkan segala yang ia miliki padahal sejatinya hanyalah titipan yang setiap saat bisa diminta kembali oleh Sang Pemilik. Orang sombong seringkali merasa dirinya paling benar dan lebih dibandingkan orang lain. Sehingga tak jarang justru memicu keretakan suatu hubungan. Membuat siapa pun yang berada di dekatnya menjadi tidak nyaman. Bisa jadi, kita tak sadar ikut menjadi golongan orang yang sombong. Naudzubillahimindalik.

“Tidak akan masuk surga seseorang yang di dalam hatinya terdapat kesombongan sebesar biji sawi.” Ada seseorang yang bertanya, “Bagaimana dengan seorang yang suka memakai baju dan sandal yang bagus?” Beliau menjawab, “Sesungguhnya Allah itu indah dan menyukai keindahan. Sombong adalah menolak kebenaran dan meremehkan orang lain. (HR. Muslim no. 91)

Sombong merupakan salah satu penyakit hati yang harus segera diobati. Jika tidak, maka akan merusak seluruh diri kita. Rasulullah bersabda, “Sesungguhnya di dalam diri manusia ada segumpal darah, apabila ia baik maka baik pula seluruh diri dan amal perbuatan manusia dan apabila ia rusak, maka rusaklah seluruh diri (amal perbuatan manusia tersebut). Ingatlah, ia adalah hati.” (Shahih Bukhari dan Shahih Muslim dari Nu’man Ibn Basyir ra).

Nah, oleh karena itu, kita harus menjaga hati kita agar seluruh diri kita baik adanya. Lantas bagaimana cara menghalau sombong?

Pertama, perbanyak istighfar. Meminta ampunan kepada Allah SWT atas segala sifat sombong yang telah dilakukan yang mungkin menyakiti banyak pihak. Semoga Allah memudahkan kita keluar dari sifat sombong.

Kedua, Pahami makna innalillahiwainnailaihirojiun yang mengandung arti bahwa “Sesungguhnya semua yang ada pada diri kita adalah milik Allah dan semua akan berpulang kepadanya.” Kalimat ini membantu kita mengingat bahwa semua hanyalah titipan yang sewaktu-waktu bisa diambil kembali oleh-Nya. Harta, kecantikan, jabatan, keluarga, bahkan nyawa kita sejatinya bukanlah milik kita. Jika Allah sudah berkehendak, maka semua bisa lenyap hanya dalam hitungan satu jentikan jari. Lantas, apa yang masih bisa kita sombongkan?

Ketiga, mengingat mati. Hidup ini hanya sementara, kematian adalah misteri illahi yang tak dapat kita ketahui. Dunia hanyalah sementara sedangkan akhirat kekal adanya. Lantas, bekal apa yang sudah kita siapkan? Sudahkah cukup bekal yang kita bawa? Padahal, sedikit saja rasa sombong melekat di hati kita, maka surga haram hukumnya. Sekalipun hanya sebesar biji sawi. “Seorang yang memperbanyak mengingat mati, niscaya akan sedikit girangnya dan sedikit pula sifat hasadnya” [Hilyatul Auliya 1/220]

Sombong? Apalah gunanya! Semoga Allah SWT melindungi kita dari sifat sombong dan merasa paling benar sendiri dan menuntun kita untuk selalu melakukan kebaikan.

Leave a Reply