Wanita Karir Dalam Pandangan Islam

Belum lama ini kita memperingati Hari Kartini, 21 April kemarin. Hari Kartini seringkali dikaitkan dengan isu emansipasi wanita. Banyak yang salah dalam mengartikan makna dari perjuangan Kartini dalam memperjuangkan hak-hak kaum wanita. Pada saat ini isu emansipasi wanita lebih banyak yang memfokuskan pada kesetaraan gender hampir di semua aspek dan meninggalkan fungsi utama dan paling krusial bagi setiap wanita di muka bumi ini, seorang Ibu.

Simaklah petikan surat Kartini berikut :

“Kami di sini memohon diusahakan pengajaran dan pendidikan anak perempuan, bukan sekali-kali karena kami menginginkan anak-anak perempuan itu menjadi saingan laki-laki dalam perjuangan hidupnya. Tapi karena kami yakin akan pengaruhnya yang besar sekali bagi kaum wanita, agar wanita lebih cakap melakukan kewajibannya, kewajiban yang diserahkan alam sendiri ke dalam tangannya:menjadi ibu, pendidik manusia yang pertama-tama.”

Dari penggalan surat di atas Kartini mengatakan bahwa tujuan akhir dari perjuangannya membela hak-hak kaum wanita adalah agar mereka mendapatkan pengetahuan yang layak karena posisinya yang sangat penting, Pendidik manusia yang pertama.

Pada masa sekarang, seringkali para kaum wanita melupakan hal tersebut. Mereka cenderung larut dalam profesi yang mereka geluti dan melupakan hal yang paling krusial tersebut. Islam tidak melarang seorang wanita untuk melakukan pekerjaan yang mereka sukai. Seperti dalam ayat Al-qur’an berikut :

“Dan janganlah kamu iri hati terhadap apa yang dikaruniakan Allah kepada sebahagian kamu lebih banyak dari sebahagian yang lain. (Karena) bagi orang laki-laki ada bahagian dari pada apa yang mereka usahakan, dan bagi para wanita (pun) ada bahagian dari apa yang mereka usahakan, dan mohonlah kepada Allah sebagian dari karunia-Nya. Sesungguhnya Allah Maha Mengetahui segala sesuatu”. (Surat An-Nisa ayat 32)

Pada ayat di atas dijelaskan bahwa kaum wanita pun memiliki hak atas apa yang mereka usahakan, dan tidak ada pembedaan dengan kaum pria.

Namun, Islam pun menekankan untuk tidak melupakan tugas terpenting bagi kaum wanita, sebagai Ibu dan sebagai Istri. Seorang wanita sangat dibutuhkan peranannya dalam keluarga.

Sebagai seorang Ibu, wanita adalah pendidik paling awal dari anak-anaknya dan Islam sangat menjunjung tinggi dan menghormati kaum Ibu. Sebagaimana istilah dalam Islam, “Surga di bawah telapak kaki Ibu”. Dan sebagai seorang Istri yang saling melengkapi bagi suaminya.

“….mereka adalah pakaian bagimu, dan kamupun adalah pakaian bagi mereka…” (Surat Al-Baqarah ayat 187)

Maha benar Allah dengan segala Firman-Nya. Semoga kita selalu dalam rahmat-Nya. (@okinurkholis)

Leave a Reply